Pagi yang cerah kala sang surya menyapa
Aku duduk menatap
gerombolan awan Terdengar suara burung- burung bercengkrama
Aku tersenyum memandang dia yang rupawan
Tatkala waktu terus bergerak maju
Nanar mataku sibuk mencari sesuatu
Hingga lelah seluruh tubuhku
Menyulut emosi yang semakin memburu
Sayup-sayup bunyi mesin menderu
Waktu tak berpihak padaku
Seakan tertawa mengolokku
Hingga aku menangis sendu
Kuberjalan gontai tak bertenaga
Sorot mataku memohon pada
Tuhan
Meminta-minta semua perlindungan-Nya
Namun belum datang satu kesempatan
Detik demi detik terus berlalu
Panas terus menimpa diriku
Hukuman apa yang menimpaku
Hingga aku terpuruk dalam jalan buntu
Siang datang meniupkan jawaban
Seolah berbisik namun ku tetap tak berdaya
Mulutku bergetar menahan berat beban
Bagai kerasnya getaran gempa
Embun tercipta di pelupuk mata
Pandangan kabur entah kemana
Angin berlari membawa pesan
Sungguh berita yang tak kuharapkan
Suaraku parau dan aku gila
Tangan mengepal seakan tak percaya
Nyawaku hampir terbang kesana
Mencari sosok yang membuatku buta
Matanya membuatku buta
Lengannya membuatku lemah
Tubuhnya hangat membara
Kakinya tersayat membalur darah
Akhirnya ku panggil nama Tuhan
Membangun kembali setitik harapan
Mendirikan benteng pertahanan
Meraih sebuah perlindungan
Kembali aku berusaha tegar
Menata semua kehampaan
Semua kenyataan itu benar
Semoga kesembuhan datang padanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar