Halaman

Puisi

Rabu, 14 November 2012

KEMATIAN


YA TUHAHAN KU, tiada sempat aku memohon ampunan kepada-mu
Tidak pernah selintaspun aku mengingat akan kebesarab-mu
Betapa nistanya aku, kini aku harus berhadapan dengan-mu
Sang maha pencipta, semesta alam beserta isinya
Alangkah hinanya diriku di hadapan-mu

Betapa menyesalnya akusaat ini
Bocah kecilku nan lucu, belum sempat kupersiapkan
Suatu yang berarti untuk masa depannya
Tiada satupun jasa yang aku balas untuk kedua orang tuaku
Hari-hari yang aku lalui hanya di sisi untuk masalah duniawi semata
Tanpa pernah mengakui perintahnya

Sesaat lagi, tubuh kaku akan di turunkan ke lahat yang sunyi dan sepi
Hanya dingin dan beku yang setia menemaniku
Semua kenikmatan dan keramaian dunia hilang tak bertepi
Kini berubah menjadi gelap dan pengabdi dalam liang lahat yg sempit
Aku menyesal di akhir dari perjalanan ujung dunia &
Tidak dapat merubah perjalan waktu

Ya Allah, yang Maha Pengampun
Ampunilah aku ya Allah, sayangilah aku…
Begitu kotornya diriku ketika akan menghadap-mu
Tubuh berlumur Lumpur noda dan dosa,penuh nista
Tada bekal amal shaleh yang dapat aku sertyakan untuk-Mu
Tiada akhlak terpuji yang aku jalani
Apakah masih ada pengampunan bagi hambamu ini?

Ya Tuhan ku, Yang maha Penyayang
Sayangilah ibu bapakku, ampuni dosa-dosanya
Bimbinglah keluargaku,
Menuju jalan lurusjalan yang engkau Ridhai
Malu… malu aku dengan mohon pinta yang tak pantas
Aku panjatkan pada-mu
Ya Tuahan Yang Maha Perkasa
Tobatku kini tiada bermakna
Karena kin aku telah berada di hadapan mu  
......................................ya ALLAH.................................

kematian tidak akan di ketahui oleh semua mahkluk hidup hanyalah ALLAH yang mengetahui

harapan Seorang Teman

Pagi yang cerah kala sang surya menyapa
Aku duduk menatap
gerombolan awan Terdengar suara burung- burung bercengkrama
Aku tersenyum memandang dia yang rupawan

Tatkala waktu terus bergerak maju
Nanar mataku sibuk mencari sesuatu
Hingga lelah seluruh tubuhku
Menyulut emosi yang semakin memburu

Sayup-sayup bunyi mesin menderu
Waktu tak berpihak padaku
Seakan tertawa mengolokku
Hingga aku menangis sendu

Kuberjalan gontai tak bertenaga
Sorot mataku memohon pada
Tuhan
Meminta-minta semua perlindungan-Nya
Namun belum datang satu kesempatan
Detik demi detik terus berlalu
Panas terus menimpa diriku
Hukuman apa yang menimpaku
Hingga aku terpuruk dalam jalan buntu

Siang datang meniupkan jawaban
Seolah berbisik namun ku tetap tak berdaya
Mulutku bergetar menahan berat beban
Bagai kerasnya getaran gempa

Embun tercipta di pelupuk mata
Pandangan kabur entah kemana
Angin berlari membawa pesan
Sungguh berita yang tak kuharapkan

Suaraku parau dan aku gila
Tangan mengepal seakan tak percaya
Nyawaku hampir terbang kesana
Mencari sosok yang membuatku buta
Matanya membuatku buta
Lengannya membuatku lemah

Tubuhnya hangat membara
Kakinya tersayat membalur darah
Akhirnya ku panggil nama Tuhan
Membangun kembali setitik harapan
Mendirikan benteng pertahanan
Meraih sebuah perlindungan
Kembali aku berusaha tegar
Menata semua kehampaan
Semua kenyataan itu benar
Semoga kesembuhan datang padanya

Senin, 24 September 2012

lorong kematian

Lorong Kematian
Jod Selovic mengerutkan kening ketika mendengar siaran radio,
senja di bulan Juli 1995. Menteri Luar Negeri Inggris, Malcolm
Rifkind, menegaskan bahwa Bosnia Herzegovina, kini dalam
situasi aman dan damai. Ia menyatakan pasukan Serbia tak akan
lagi melakukan penyerangan terhadap penduduk sipil.
"Gila," gerutu Jod Selovic. Diliriknya Dean Milovic, anak buahnya yang
sedang asyik menimang emas yang kemarin ia jarah dari puluhan mayat
wanita Bosnia korban perkosaan di barak mereka.
"Kau dengar, Dean? Tak ada perang lagi? Tak ada? Ha…ha…ha…."
Dean terkekeh juga. "Siapa yang bisa mencegah kita melumuri negeri
cantik ini dengan darah?"
"Aku bahkan mempunyai taktik baru. Lebih brilyan dari Ratko Mladic!"
sela Jod.
Oh ya?" Dean menaikkan alis matanya. "Apa itu, komandan?"
"Kau akan tahu," tegas Jod. "Ayo!" ia segera bangkit menuju lapangan, di
belakang barak prajurit. Dean tergopoh-gopoh mengikutinya. Lengkingan
pluit diikuti dengan suara panggilan berulangkali pada seluruh pasukan
terdengar. Kesibukan segera tampak di sekitar barak. Para lelaki tegap
dan gagah menuju satu titik temu: Komandan Jod!
"Saatnya pengarahan, minuman dan suntikan!" kata Jod pada sekitar lima
ratus prajuritnya. "Dean, siapkan!"
"Siap Komandan!" seru Dean. Cepat ia membagi lima ratus orang itu
dalam dua puluh kelompok.
Jod memperhatikan sambil menarik-narik hidungnya yang lancip.
‘Suntikan kesehatan’ dan ‘minuman kebugaran’ akan membantu
prajuritnya untuk beraksi melebihi angin bura mana pun. Berani dan buas.
***
Srebrenica lepas Isya. Kota yang poranda itu adalah dua mayat raksasa
yang mendekap mayat-mayat manusia yang tiada bisa dikenali lagi.
Bahkan udara seakan mati. Bangunan rapuh sisa reruntuhan, menjadi
tempat bermalam mereka yang kehilangan tempat tinggal. Sepi, dingin
ditingkahi suara serangga malam.
"Tidak, tak akan ada lagi pembantaian. PBB telah menjamin…," suarasuara
itu menghibur diri sendiri dalam dekapan malam.
Keheningan pecah seketika saat suara tank, bom, mortir dan berbagai
senjata mengoyak dan mencabik setiap sudut kota.
Para penduduk Srebrenica yang sejak tadi tak dapat memicingkan mata
barang sesaat menjadi panik. Tiba-tiba saja puing-puing reruntuhan dan
bedeng hunian tempat mereka berteduh dibombardir! Jeritan kematian,
pekik histeria dan berbagai rintihan membuat malam merah menangis.
Orang-orang berlarian sendiri tanpa arah, tanpa sempat mengajak atau
melindungi keluarga mereka. Bertemu Serbia berarti mati tanpa bentuk.
Maka tanpa berpikir lagi, ratusan orang memasuki hutan di tepi
Srebrenica. Itulah satu-satunya tempat yang aman, meski bukan mustahil
mereka menjadi mangsa binatang buas!
Satu persatu dari mereka rebah ke tanah, terkena tembakan dan mortir
sebelum bisa mencapai hutan. Kebanyakan para balita, wanita dan
orangtua. Ledakan. Di mana-mana api. Asap membumbung tinggi….
Jod Selovic berlari kencang sambil memuntahkan peluru dari senjata laras
panjangnya. Dan saat darah muncrat dan menggenangi jalan, terasa ada
kepuasan yang menyentak-nyentak dalam dirinya. Di hadapannya tak ada
manusia. Hanya hewan-hewan liar yang berlarian menyelamatkan diri. Jod
menembak domba dan sapi. Lalu ayam-ayam yang beriringan. Ketika
seekor harimau melintas, ia menembaknya berulangkali! Hewan-hewan
berlarian di pekat malam! Jod tak akan melepaskannya….
"Dean!" panggilnya.
Dean menyeringai. "Komandan, berapa yang kena?"
"Aku pemburu jitu! Pemburu jitu, Dean!"
Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar.
Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak menyentuh
sedikit pun hati Jod dan anak buahnya
Suara riuh rendah para tentara Serbia yang menikmati perburuan mereka
tak teredam oleh derap tank-tank mereka baja. Tak lama sambil
mengusap peluh di dahinya berulangkali dan menenggak sebotol zilavka,
Jod memberi komando agar ‘perburuan’ dihentikan.
"Komandan, kami belum selesai!" protes para tentara.
"Kami akan menghanguskan hutan ini sekalian!" seru yang lain.
Jod Selovic mengangkat tangannya: "Mundur!" teriaknya. "Kita kembali!"
Dean Milovic dan ratusan tentara lainnya, meninggalkan tempat itu
dengan setengah hati. Biasanya Jod menyuruh mereka untuk selalu
menuntaskan masalah. Termasuk menghabisi nyawa setiap Bosnia, tanpa
satu pun yang luput. Tanpa ada saksi mata . Tapi kini….
"Komandan, bisa kau jelaskan soal ini?" tegur Dean sambil mengatur
napasnya.
Jod tersenyum, masih dengan dada yang turun naik. "Nanti kujelaskan.
Setelah minum dan mendapat suntikan sekali lagi di markas," ujarnya
kemudian, dingin, sambil mengisi kembali senjatanya dengan peluru.
***
Pukul 21.00, waktu Srebrenica. Semua seperti tak percaya mendengar
uraian Jod. Malam ini mereka akan mengepung pos PBB di tepi
Srebrenica!
"Kita akan merampas bahan makanan, senjata, hingga seragam mereka!"
tegas Jod. "Bila mereka mengancam atau melawan kita bunuh!"
"Mengapa harus demikian…, maksudku mengapa seragam mereka juga
harus kita rampas?" tanya seorang prajurit.
"Bodoh! Pakai otakmu bila berbicara. Kita akan menggantikan tugas
mereka ‘melindungi’ para penduduk. Jod terbahak-bahak. Diraihnya
‘minuman kebugaran’. Sambil minum ia terus tertawa-tawa,
menyampaikan rencananya.
Mata Dean Milovic berbinar-binar. Yang lain menyeringai atau
ternganga…, beberapa bergidik. Ah, semua tentara yang pernah mengenal
Jod berkata benar. Jod dan Ratko Mladic atasannya, bagai si kembar
pencabut nyawa yang maha licik!
"Dean, bagi kelompok! Saatnya minum dan suntik!"
Para tentara baret merah itu tertib masuk dalam kelompok masingmasing.
Siap untuk diberi minuman dan suntikan. Mereka merasa selalu
lebih segar,hebat dan tangguh bila sudah mendapatkan semua itu!
Kalau saja kalian tahu, pikir Jod. Bahwa suntikan dan minuman itu semata
untuk menghilangkan kemanusiaan kalian, seperti juga aku. Sebab
peperangan adalah ladang pembantaian yang dilakukan oleh mereka yang
bukan manusia. Begitu menurut Ratko Mladic….
Tak sampai satu jam kemudian iring-iringan sekitar lima ratus prajurit
telah sampai di Pos PBB, Srebrenica.
Jod cukup merasa takjub, ketika para petugas ‘pelindung’ kiriman PBB itu
terbelalak ketakutan menghadapi ancamannya. Bahkan pada akhirnya
mereka dengan sukarela menyerahkan bukan saja pakaian, juga semua
yang mereka miliki padanya.
"Dunia tidak boleh tahu kepengecutan kalian. Bila kalian buka suara kami
akan kembali dan ingat baik-baik, bila hal itu terjadi berarti kalian telah
mencoreng nama PBB di panggung internasional. Prajurit, ambil semua
bahan makanan, senjata dan obat-obatan!" perintah Jod.
Pemimpin pasukan PBB yang telah dilucuti dan cuma mengenakan singlet
serta celana pendek itu menggigil ketakutan. Anak-anak buahnya berbaris
menghadap tembok dengan tubuh bergetar.
"Pakai!" teriak Jod pada Dean sambil melemparkan pakaian seragam
pasukan PBB, lengkap dengan baret birunya!
"Hup!" Dean menangkapnya sambil tertawa-tawa. Ia segera melemparkan
seragam-seragam yang lain pada anggota pasukan Serbia. Dalam
sekejap, baret-baret merah Serbia telah berganti dengan baret-baret biru
pasukan PBB!
"Komandan, aku belum dapat!"
"Ya, aku juga!" kata beberapa prajurit pada Jod.
"Di mana cadangan seragam kalian?" bentak Jod seara mengangkat wajah
dan mencengkeram singlet yang dipakai kepala pasukan PBB itu.
Lelaki separuh baya itu menunjuk ke sebuah lemari dengan daku yang
nyaris rapat ke dada. Geram. Takut.
Setelah mendapatkan semua, dengan cerdik Jod memaksa tawanannya
masuk ke dalam markas. Sekitar dua ratus tentara itu dipaksa
berhimpitan dalam ruangan yang tak begitu luas, hingga mereka megapmegap
karena sulit bernapas. Lalu dengan angkuh Jod mengunci mereka
dari luar.
"Ayo kita ledakkan!" teriaknya.
Dean dan prajurit lainnya terbelalak. Para pasukan naas yang mendengar
gelegar suara Jod berteriak memohon-mohon. "Ampun, jangan ledakkan!
Jangan bunuh kami!" ratap mereka. "Tolong, kasihani kami!" lolong
mereka lagi.
Jod tersenyum sinis. "Pengecut! Dean, perintahkan pasukan kita
berangkat! Biarkan mereka seperti ikan-ikan dalam akuarium
kecil…ha…ha…ha….
***
Jod dan pasukannya menyelusuri jalan sebelumnya, tempat ribuan
manusia berlari menyelamatkan diri, beberapa jam lalu. Kini waktu
menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Tak jauh dari hutan….
"Kalian yang berbaret biru, di depan!" perintah Jod. Para tentara
mengatur barisan mereka tanpa suara.
"Kalian yang berseragam asli, sembunyikan diri kalian di balik pepohonan
dan belukar!"
Kemudian Jod dan pasukannya meneruskan perjalanan menuju hutan.
Mata malam Jod yang terlatih menangkap kelebat-kelebat manusia yang
bergegas menyembunyikan diri, juga suara-suara tangisan yang ditahan.
"Halo…halo…., siapa yang bisa mendengar saya? Hutan telah dikuasai
pasukan PBB! Jangan takut, kami datang untuk menolong. Halo, halo….,"
suara ramah Jod menggema ke sekitar belantara.
Pelan-pelan, para penduduk yang menggigil karena lapar, sakit dan takut
itu mengintip-intip dari tempat persembunyian mereka. Lalu tak lama,
mulai bermunculan. Semakin lama semakin banyak. Wajah-wajah pias
mereka sedikit berseri memandang pasukan baret biru tersebut. Sebagian
lagi langsung bersimpuh lemas di hadapan beberapa tentara.
"Halo, halo, siapa yang masih bersembunyi? Kami pasukan PBB. Kami
akan membawa kalian ke tempat-tempat pengungsian."
Ratusan orang, tua, muda, anak-anak dan wanita bergegas meninggalkan
tempat persembunyian mereka tanpa ragu sedikit pun.
"Alhamdulillah, pasukan PBB datang…."
"Ya, kita tertolong…."
"Ah, aku tak kuat lagi."
"Hasanovic! Gervka! Keluar, bantuan telah datang!"
"Apakah anda mempunyai sepotong saja baclava, anak saya kelaparan…."
"Tapi, mau dibawa ke mana kami?"
Suara-suara penduduk yang merasa diselamatkan terdengar gembira. Jod
menarik napas panjang. Dua tugas lagi dan permainan selesai.
"Dean, suruh beberapa prajurit menghitung! Kumpulkan semua orang di
ujung sana!"
Dean bergerak cepat. Tak lama ia sudah kembali membawa berita. "Lebih
dari lima ribu orang. Sekitar lima ratus tewas oleh serangan kita
sebelumnya," suara Dean setengah berbisik.
Jod memandang ke kanan belantara. Ribuan orang terduduk menunggu
nasib mereka selanjutnya. Hanya itu pemandangan yang dilihatnya.
Nuraninya bahkan tiada tersentuh melihat bocah-bocah bermata jernih
yang terus memperhatikan mereka. Hatinya beku melihat para wanita dan
orang-orangtua yang resah gelisah. ‘Minuman’, ‘suntikan’ dan doktrindoktrin
militer Serbia telah menempanya menjadi Jod Selovic, komandan
penyambar nyawa. Demi tanah air, atas nama bangsa, ia memilih menjadi
manusia tak berperi!
Tampaknya tak ada di antara orang-orang Bosnia itu yang curiga.
Seragam, truk-truk tronton, semua menunjukkan kekhasan pasukan PBB.
Pasukan itu juga telah memberi mereka roti dan minuman.
Jod masih menatap orang-orang itu. "Dean, suruh para komandan pleton
memisahkan para lelaki dan perempuan!"
Suara-suara bingung terdengar, saat pasukan Jod memisah-misahkan
warga Bosnia tersebut.
"Jangan, jangan pisahkan! Ayah kami sudah tua!"
"Ivan, Ivan anakku!"
"Nuraa! Nuraa…."
"Diam kalian! Para lelaki naik ke atas truk-truk itu! Cepat!" teriak Dean.
"Ganti pakaian kalian dengan mereka! Cepat!" perintah Jod.
Para tentara Serbia yang bersembunyi di balik pepohonan dan kegelapan
malam, tiba-tiba muncul! Para penduduk sipil berteriak histeris. Beberapa
orang berusaha melarikan diri. Sia-sia! Darah segar mereka malah
kembali mewarnai malam.
"Buka baju kalian! Buka!" teriak para tentara Serbia berpet merah kepada
para lelaki. Rentetan suara tembakan terdengar memecah malam. Lalu
sebuah pesta dini hari digelar. Para tentara Serbia memaksa penduduk
sipil memakai seragam mereka. Dan sambil tertawa-tawa mereka bersalin
dengan pakaian peduduk sipil tersebut.
Kening Jod Selovic kembali berkerut. Hidungnya bergerak-gerak. "Angkut
para ‘tentara Serbia’ itu segera. Kita bantai mereka di tengah jalan!
Setelah itu kita undang para wartawan. Kita beri bukti pada dunia bahwa
tentara-tentara kita telah disembelih oleh orang-orang Bosnia
Herzegovina yang kejam ini!"
Para penduduk semakin dicekam ketakutan, tetapi mereka mencoba
sebisa mungkin menahan rasa ngeri dan pedih itu. Sebab satu gerakan
bisa berarti mati!
"Dean, selesaikan wanita dan anak-anak! Silakan berpesta, ‘pasukan
PBB’!
Tentara-tentara itu tertawa-tawa. Ketakutan warga memuncak. Semakin
memuncak!
"Aaaaaaaa!"
"Pisahkan para wanita hamil!" teriak salah seorang Serbia, terkekehkekeh.
Alis Dean terangkat. "Kau bilang janin ini perempuan ini lelaki? Percaya
padaku, ia pasti perempuan!" Tiba-tiba pedang panjang yang selalu setia
menemani Dean, bergerak cepat dan seketika membelah perut seorang
wanita hamil di dekatnya.
"Tidaaaak! Allaaah!"
"Sial, kau benar…, janin ini perempuan! Ha…ha…ha…."
Wanita hamil itu jatuh berlumuran darah, ke tanah dengan perut yang
terbelah. Janinnya dilemparkan ke udara. Lalu segera beberapa tentara
itu mencari wanita hamil lainnya. Oh, betapa mereka dahaga akan
hiburan! Tentu saja hiburan yang menyertakan taruhan!
Jeritan-jeritan kematian masih menerkam malam, menyayat bulan.
Mata Jod Selovic berkilat menatap kubangan darah yang menghitam
dalam gelap, tak jauh di hadapannya. Tugas terakhirnya kini adalah
membawa para penduduk Bosnia berseragam Serbia itu dan
membantainya di berbagai tempat. Ya, ia tahu tempat-tempat bagus.
Barak, jalanan…, atau gereja? Sama saja.
Jod menatap langit yang kelabu. Bila saja mampu, ia akan buat langit itu
retak dan berdarah.
Ia tertawa keras. Semakin keras menjelang pagi.
Cipayung
Helvy Tiana Rosa
1 Januari 1995

Minggu, 05 Agustus 2012

Arwah Yang Suka Menyanyi


CHAPTER 1:
MEMBELI RUMAH KUNO

Pesta sederhana itu berlangsung cukup meriah. Berkali-kali Pak Wibisono saling berpandangan dengan istrinya, saling tersenyum dengan manis, menandakan kebahagiaan sekaligus kepuasaan. Para tamu undangan yang datang dari jauh adalah mereka yang mulai hari ini resmi menjadi mantan tetangga. Kedatangan mereka adalah bukti bahwa Pak Wibisono sekeluarga tetap disayangi dan dihormati, bahkan mungkin disayangkan kepergiannya. Tamu yang lain adalah orang-orang sekitar yang akan menjadi tetangga baru.
Kesediaan mereka datang mengisyaratkan bahwa keluarga Wibisono diterima dengan baik di lingkungan mereka.
Di luar itu semua, yang paling membahagiakan Pak Wibisono adalah kenyataan bahwa mulai sekarang ia sudah memiliki rumah sendiri, setelah bertahun-tahun sejak menikah mereka hanya menempati rumah kontrakan.
Katanya, kesempurnaan seorang lelaki adalah apabila ia sudah memiliki sebuah rumah sendiri dari hasil jerih payahnya. Pak Wibisono bangga, biar pun untuk memiliki rumah ini, ia terpaksa harus meminjam uang kantor dan mengembalikannya dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Ia juga harus merelakan menjual sedan kesayangan dan menghabiskan hampir seluruh tabungannya.
Tapi kalau tidak begitu, kapan lagi kesempatan itu ada?
Rumah tua di pinggir kota ini tidaklah terlalu jelek.
Dengan sedikit perbaikan di sana-sini, Pak Wibisono yakin bisa menyulapnya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tenang karena letaknya yang di pinggiran, dan sejuk karena dekat perbukitan serta areal perkebunan kopi.
Semula Ibu Wibi kurang setuju dengan pilihan suaminya. Begitu juga dengan Miko, anak sulung mereka. Kata Miko, rumah tua ini kesannya sangat angker. Melihatnya dari luar, apalagi pada malam hari, selalu membuat bulu kuduknya berdiri. Seperti markas vampire!
Pak Wibisono selalu menertawakan anggapan putra tertuanya itu.
Kata beliau, itu akibat terlalu sering menonton film horor atau misteri di televisi. Menurut Pak Wibisono, rumah tua berarsitektur Belanda ini bisa menjadi investasi yang kelak amat berharga. Antik dan langka. Atas pertimbangan itulah Pak Wibisono bertahan dengan pilihannya. Apalagi ia tidak sendirian. Di luar dugaan, Karmila sangat antusias dengan pilihan ayahnya tersebut. Gadis manis, adik Miko yang duduk di kelas tiga SMP itu, justru selalu menyemangati ayahnya untuk segera menyelesaikan transaksi pembelian. Dua lawan dua. Dan karena ternyata rumah ini dijual dengan harga yang terbilang cukup murah, maka Ibu Wibi dan Miko terpaksa mengalah.
***
CHAPTER 2:
ARWAH DI RUMAH KUNO

"Sudah jam sepuluh lewat, Pak...."
Sentuhan istrinya itu membuat Pak Wibisono tersadar dari lamunannya. "Ya? Apa?"
"Sudah cukup larut...," bisik Ibu Wibi. Pak Wibisono mengerti maksud istrinya. Sudah waktunya memberikan pidato singkat berisi ucapan terima kasih dan selamat jalan. Pesta selamatan pindah ke rumah baru ini akan segera diakhiri. Pak Wibisono cepat bergeser dari posisinya sambil mengedarkan pandangan. Benar, para tamu telah selesai dengan hidangan penutup. Ia berjalan menuju ke sudut kosong, menepuk tangan beberapa kali untuk meminta perhatian para tamu.
Para tamu serentak memandang ke arah Pak Wibisono dan menghentikan kesibukannya masing-masing.
"Bapak dan ibu sekalian...." Pak Wibisono membuka suara. Tapi suaranya tertelan kembali manakala tiba-tiba terdengar suara amat berisik dan lantang dari balkon.
Serentak semua mata memandang ke atas. Seorang gadis manis berada di balkon, menari berputar-putar sambil bernyanyi-nyanyi sembarangan dengan suara keras dan melengking.
"Mila!" Ibu Wibi dengan panik berseru ke arah putrinya.
Miko untuk sesaat seperti takjub dan terpesona melihat kelakuan adiknya itu.
Namun ketika teriakan dan pelototan Ibu Wibi tak juga menghentikan keanehan Karmila, dengan cepat Miko berlari menaiki anak tangga untuk mendapatkan adiknya.
"Mila! Apa-apaan kamu?! Tidak tahu malu! Siapa suruh kamu ngasih hiburan?"
Miko mendorong tubuh adiknya, menjauh dari pagar balkon agar Karmila tak terlihat oleh orang-orang lagi dari bawah.
Karmila mendadak menghentikan gerakan dan nyanyiannya. Ia menatap saudara tuanya dengan pandangan beringas.
Tanpa sadar Miko melangkah mundur. Ini untuk pertama kalinya ia memperoleh sikap adiknya yang begitu aneh. Mata itu begitu buas dan penuh ancaman!
"Mila! Kamu kenapa?" Tiba-tiba Miko merasa cemas.
Tak ada jawaban, melainkan teriakan dengan irama yang menyakitkan telinga. Sebuah nyanyian, lagu anak-anak dengan nada yang amat sumbang.
"Pelangi-pelangi... alangkah indahnyaaaa...."
Terdengar tawa dan tepuk tangan dari bawah. Terdengar suara Ibu Wibi meminta maaf. Memalukan sekali! Miko bergerak mendekap mulut Karmila, namun Karmila semakin meronta bahkan menggigit telapak tangan kakaknya. Pada saat keduanya masih bergumul, Pak Wibisono telah pula sampai di atas.
***
CHAPTER 3:
KARMILA KESURUPAN

"Ada apa? Apa maunya kamu, Mila?!"
Pak Wibisono menghardik, berusaha menutup rasa malunya terhadap tamu-tamunya dengan mengeluarkan suara amarah yang tak kalah lantangnya.
"Mendadak dia kayak kerasukan setan, Pak. Tangan saya malah digigitnya!" Miko yang menjawab sambil terus memegangi tubuh adiknya. Sementara itu Karmila terus bernyanyi dan semakin ngawur.
Plak!
Di luar dugaan, Pak Wibisono menampar pipi putrinya dengan cukup keras. Miko sempat tercengang melihat tindakan ayahnya. Tapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat tubuh Karmila mendadak mengejang dan mendadak pula terkulai. Miko dengan sigap memeluk tubuh adiknya sebelum terjatuh.
Hanya beberapa detik tubuh Karmila terkulai tak berdaya. Dalam waktu yang amat singkat, mata Karmila yang semula terpejam telah terbuka. Beberapa kali mata itu terkerjap. Karmila menampakkan ekspresi kebingungan.
"Lho? Ada apa ini?" Karmila meronta dari pelukan kakaknya.
"Mila?" Miko menatap cemas. "Kamu kenapa? Kamu... kamu... tidak apa-apa?"
Karmila nampak semakin kebingungan. "Memangnya saya kenapa?"
"Miko, bawa adikmu masuk ke kamar, sementara Bapak mengurus tamu-tamu. Kamu paham?"
Miko mengerti maksud ayahnya. "Mari ke kamar, Mila!" bujuknya sembari menarik tangan adiknya.
Pak Wibisono telah turun lagi ke lantai bawah, menjumpai tamu-tamunya. Ia meminta maaf atas gangguan kecil yang telah ditimbulkan oleh Karmila, putrinya. Sesaat kemudian para tamu menyalami dan berpamitan.
Setelah suasana sepi, Pak Wibisono menutup semua pintu, lalu dengan tergesa-gesa naik ke lantai atas.
Di kamar putrinya itu, Ibu Wibi tengah menanyai Karmila dengan perasaan cemas.
"Aneh kan, Pak?" Ibu Wibi menatap suaminya kebingungan. "Mila sama sekali lupa dengan apa yang telah dilakukannya tadi..."
Pak Wibisono menatap Karmila meminta penjelasan. Karmila masih duduk sambil mendekap bantal. Barkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mila sungguh-sungguh tidak mengerti, tidak ingat apa-apa. Sumpah! Rasanya... Mila tidak ngapa-ngapain. Tadinya cuma pusing... dan Mila kan sudah ngomong sama Ibu, bahwa Mila sedikit pusing dan ingin rebahan dulu di kamar. Setelah itu... rasanya Mila ketiduran... lalu?"
"Kamu tidak sadar bahwa kamu sudah bikin kacau dan malu-maluin?!" Miko membentak, membuat Karmila sedikit ketakutan."
"Mila bingung!" jerit Karmila.
***
CHAPTER 4:
ARWAH PENASARAN

Pak Wibisono menggeleng ke arah Miko. Menyuruh putranya itu diam. Ia tidak mau Miko menyudutkan Karmila yang tidak tahu apa-apa. Gadis itu semakin terpuruk. Dan ia masih terguncang dengan kejadian yang sama sekali tidak disadarinya itu.
Ia mendekati Karmila, lantas membelai kepalanya dengan lembut.
"Kamu mungkin terlalu capek karena sehari ini bantu-bantu Ibu. Sekarang tidurlah. Masih pusing?"
"Tadi Bapak menampar Mila?"
"Maafkan Bapak...." Pak Wibisono menyentuh pipi Karmila dengan lembut.
Hari semakin larut. Sudah menjelang pukul satu dinihari. Karmila sudah tidur setengah jam yang lalu, setelah Ibu Wibi setengah memaksanya minum aspirin. Tapi Pak Wibisono bersama istri dan anak lelakinya seperti tak ingin segera tidur. Mereka masih membicarakan keanehan yang barusan terjadi. Ibu Wibi mengambil kesimpulan yang cukup menakutkan; Karmila kerasukan setan!
"Mungkin saat itu pikiran Mila tengah kosong, dan...."
"Lalu, arwah siapa?! Jangan-jangan rumah ini 'berpenghuni'?!" Miko menyela dengan mimik ringis.
"Jangan berpikir aneh-aneh, Miko! Kamu mulai lagi terpengaruh film-film horor!"
Ibu Wibi sedari tadi lebih banyak berdiam diri, tapi sesungguhnya ia merasa kahawatir dan ketakutan.
***
Pagi-pagi sekali ada tamu yang datang. Seorang tetangga baru, laki-laki setengah umur yang tinggal tak jauh dari rumah kediaman baru keluarga Wibisono.
"Kebetulan saya lewat hendak ke kampung sebelah, lalu mampir," kata laki-laki itu, namanya Pak Wisnu, menjawab keheran Pak Wibisono. "Saya semalam juga datang...."
"Oh, ya. Tentu saja saya masih ingat." Padahal sesungguhnya Pak Wibisono telah lupa. Ia belum bisa mengingat dan belum tahu siapa-siapa persis orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
"Mengenai putri Bapak semalam...."
Sampai di situ, Miko yang tengah mengelap sepeda untuk pergi ke sekolah merasa terusik. Ia menghentikan kesibukannya dan menguping pembicaraan ayahnya dengan Pak Wisnu.
"Apakah Ananda dalam keadaan baik-baik saja?"
Pak Wibisono tertawa kecil. "Karmila tidak apa-apa. Semalam ia hanya merasa kecapekan, lalu begitulah," Pak Wibisono mengangkat bahunya, "sedikit bertingkah aneh. Ah, namanya juga anak-anak."
"Tapi, nyanyiannya itu...?"
Miko merasa amat tertarik.
"Ada apa dengan nyanyiannya? Lucu, ya?" tanyanya akhirnya, setelah tak mampu membendung rasa penasaran. Ia nimbrung kini, melemparkan kain lapnya ke samping sepeda. Berdiri, lalu berjalan menghampiri ayahnya dan Pak Wisnu.
Pak Wisnu seperti menggumam. "Mengingatkan saya pada...."
"Apa, Pak?" Pak Wibisono dan Miko bertanya serempak. Rasa penasaran mereka semakin membuncah.
"Niar."
"Niar? Siapa Niar?! Putri Bapak?" tanya Miko.
"Niar, putrinya Pak Sindhu." Pak Wisnu mengerutkan keningnya, ada bayang ragu tergambar di wajahnya.
"Maksudnya, Sindhu yang dulunya pemilik rumah kami ini?" tanya Pak Wibisono. "Tapi, bukankah Pak Sindhu tidak punya anak? Setahu saya, Pak Sindhu itu seorang duda tanpa anak."
"Pak Sindhu punya anak. Seorang. Namanya Niar. Dulunya... Niar juga suka menyanyi. Anak-anak memang suka bernyanyi, kan?"
"Biasanya begitu," Miko yang menjawab. Ia semakin tertarik dengan setiap ucapan Pak Wisnu. "Oh, jadi sebenarnya Pak Sindhu punya anak perempuan yang bernama Niar. Lalu, di mana sekarang? Ikut ibunya?"
"Ibunya... istri Pak Sindhu telah meninggal dunia, Miko." Pak Wibisono menjelaskan.
Miko masih sangat ingin berbincang-bincang dengan Pak Wisnu, tetapi nampaknya Pak Wisnu agak tergesa-gesa. Sebelum berbicara lebih banyak, ia telah berpamitan. Miko tak punya alasan untuk mencegahnya.
***
CHAPTER 5:
ARWAH BOCAH PEREMPUAN

Siang harinya sepulang sekolah, Miko menjumpai wajah cemas ibunya.
"Mila dipulangkan dari sekolahnya, Miko. Dia sakit...."
Miko menjumpai adiknya terbujur lesu di kamar. Tubuhnya demam. Ibunya telah memberi obat penurun panas dua jam yang lalu, tapi sampai kini suhu badannya tidak juga segera turun.
"Cuma demam biasa kan, Bu? Nanti sore kalau belum membaik, kita bawa ke dokter."
Ibu Wibi mengangguk setuju.
Siang itu Miko makan siang hanya berdua dengan ibunya. Biasanya mereka makan bertiga dengan Karmila. Tapi di tengah acara makan siang yang tak riang itu, tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari kamar Karmila. Seketika Miko dan ibunya teringat kejadian semalam. Miko naik ke lantai atas dan langsung menerjang pintu kamar Karmila.
"Mila?!"
Karmila tak lagi terbujur tak berdaya di atas kasur, melainkan berputar-putar di atas ranjangnya. Bernyanyi dan menari.
"Balonku ada lima... rupa-rupa warnanya... hitam putih...."
"Mila!" gerakan Miko terhenti. Selanjutnya ia berdiri dan memandang tingkah adiknya dengan seksama. Tarian dan lagunya asal-asalan. Dan... suara itu... suara itu bukan suara Karmila!
Miko menegaskan pendengarannya. Bukan suara Karmila yang telah diakrabinya hampir seluruh hidupnya, namun melainkan suara anak perempuan. Kecil dan agak cadel.
"Ibuuuu... Mila kesurupan lagiii!" teriak Miko, antara panik dan ketakutan.
Ibu Wibi telah sampai di lantai atas, dan langsung menjerit histeris. Cemas dan takut bercampur baur menjadi satu. Tapi kemudian Miko lebih cepat menguasai diri dan bertindak. Tamparannya yang cukup keras mendarat di pipi Karmila. Namun di luar dugaan Karmila tidak menjerit kesakitan, melainkan justru membuat gerakan balasan. Begitu cepat, tahu-tahu Miko merasakan pedih di pipinya. Karmila telah melukai pipi kakaknya itu dengan cakaran.
"Pergi! Pergi!" Mata Mila membuas. Tapi setelah itu, ia kembali membuat gerakan. Menari dan menyanyi lagi.
"Cicak-cicak di dinding... diam-diam merayap... datang seekor sapi... hap!"
Tubuh Karmila terjatuh. Untunglah ia masih di atas kasur sehingga kepalanya aman dari benturan benda keras.
"Mila!" Ibu Wibi memburu dan mendapatkan putrinya yang kini tengah terlentang tak berdaya. Keringat bersimbah di wajah Karmila. Tapi setelah diamati, ternyata Karmila telah tertidur, bahkan memperdengarkan dengkuran halus.
Miko dan ibunya saling berpandangan dengan heran. Keterkejutan jelas belum memudar dari wajah mereka.
"Rumah ini ada penghuninya," desis Miko.
Ibu Wibi berkomat-kamit. Nampaknya berdoa.
"Suara siapa? Arwah siapa?" Miko kembali bergumam sendiri.
***
CHAPTER 6:
MISTERI RUMAH KUNO

Sore harinya Pak Wibisono dan istrinya membawa Karmila ke dokter, meskipun badan Karmila sudah tak panas lagi. Karmila sendiri sebenarnya enggan dibawa untuk berobat, karena merasa telah sehat. Anehnya, seperti semalam, ia juga tak ingat telah berbuat ganjil, bahkan telah melukai wajah kakaknya sendiri.
Ketika rumah telah sepi, Miko juga keluar rumah. Sejak siang tadi, ia telah menetapkan niat untuk menemui Pak Wisnu yang datang tadi pagi. Begitu banyak informasi yang ingin ia ketahui, terutama mengenai tempat tinggal barunya. Di lingkungan barunya ini, Miko merasa hanya baru mengenal Pak Wisnu. Sampai detik ini, Miko hanya punya anggapan bahwa keanehan yang diperlihatkan Karmila pasti ada kaitannya dengan rumah baru mereka.
Tak sulit untuk menemukan rumah Pak Wisnu di lingkungan yang tidak terlalu padat itu. Dan Miko agak lega karena ia disambut dengan baik dan ramah oleh Pak Wisnu.
"Ada apa Ananda datang kemari? Nampaknya ada sesuatu yang amat penting sekali...," sambut Pak Wisnu seketika, begitu melihat Miko datang dengan wajah keruh.
"Adik saya kesurupan lagi...."
"Kesurupan? Maksudnya, seperti semalam lagi? Masya Allah... saya tadinya hendak berkata begitu, tapi takut menyinggung perasaan ayahmu."
"Ja-jadi, Bapak pun tahu bahwa Karmila, adik saya, kesurupan setan?" Miko semakin antusias.
"Ada arwah yang merasuki adikmu...."
"Persis! Saya pun beranggapan begitu. Tapi, Bapak saya selalu menilai saya kelewatan, mengada-ada."
Pak Wisnu mengangguk-angguk, tanda memahami.
"Apakah ada kaitannya dengan rumah kami?"
"Saya tidak berani memastikan begitu. Tapi...."
"Apakah sebelumnya pernah terjadi keanehan di rumah itu? Sejak semula saya kurang setuju kalau Bapak saya membeli rumah hantu itu."
"Rumah hantu?"
"Mirip, kan? Suasananya begitu..." Miko berhenti sebentar. "Tunggu! Sekarang saya ingat lagi...."
"Selama ini tidak pernah terjadi keanehan di rumah itu, kecuali...."
"Tunggu dulu, Pak. Sekarang saya yakin bahwa suara nyanyian dari mulut adik saya sama sekali bukan suaranya. Melainkan...."
"Suara anak-anak?" potong Pak Wisnu.
"Ya, betul!"
Sebentar, Pak Wisnu seolah membantu dengan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat. "Di telinga saya, suara itu adalah suara Niar."
"Bapak yakin?"
"Dulu saya sering datang ke rumah itu untuk memotong rumput. Beberapa kali dalam sebulan Pak Sindhu mengupah saya untuk membersihkan halaman rumahnya. Memotong rumput, memangkas pohon. Jadi, saya sudah hapal dengan suara dan nyanyian Niar. Kasihan anak itu...."
"Tapi, kata Bapak saya, Pak Sindhu tidak memiliki anak."
"Bohong. Mungkin ia hanya malu karena...." Pak Wisnu ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Karena apa, Pak?" Miko mendesak.
Pak Wisnu menarik napas panjang terlebih dahulu. "Putri satu-satunya itu berubah ingatan!"
"Mak-maksud Bapak, gila?!"
***
CHAPTER 7:
MISTERI ARWAH YANG SUKA BERNYANYI

Pak Wisnu menghela napas panjang lagi. "Panjang ceritanya. Tapi semua warga di daerah ini tahu persis peristiwa menyedihkan yang dialami keluarga Pak Sindhu."
Miko takzim menyimak.
"Pak Sindhu mewarisi rumah tua itu dari kakeknya. Ia tinggal bersama istrinya yang cantik hingga kemudian dikaruniai seorang putri yang cantik. Niar namanya. Ia buah hati kedua orangtuanya. Sayang kebahagiaan mereka terenggut. Suatu hari mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan fatal. Istri Pak Sindhu meninggal dalam kecelakaan itu."
"Juga Niar?" Miko semakin antusias.
"Tidak. Niar selamat meski harus menjalani banyak waktu untuk perawatan. Dan ia... ia mengalami gangguan otak. Ia mengalami gegar otak berat karena benturan keras dalam kecelakaan tersebut. Berbagai cara telah ditempuh, namun hasilnya... entahlah, hanyan Pak Sindhu yang tahu. Setahu kami, Niar tumbuh semakin dewasa, tapi tingkah dan kemampuannya abnormal — tetap seperti anak kecil. Ia didiagnosis mengalami gangguan mental karena gegar otak akut. Bertahun-tahun Pak Sindhu hidup berdua dengan Niar yang tidak waras. Kala kecelakaan maut itu, Niar baru jalan lima tahun, hingga sekarang... mungkin usianya limabelas tahun."
"Sama dengan usia Karmila," desis Miko.
"Tapi anehnya," lanjut Pak Wisnu," Niar tiba-tiba tak pernah kelihatan lagi. Orang-orang tak pernah lagi mendengar lagu-lagunya yang lucu dan racau."
"Sejak kapan?"
"Hampir setahun yang lalu, tepatnya sebelum Pak Sindhu menikah lagi. Waktu itu...."
"Tunggu dulu, Pak! Jadi, Pak Sindhu sudah punya istri lagi?"
Pak Wisnu mengangguk. "Waktu itu, sejak wanita yang kemudian dipersunting Pak Sindhu hadir, Niar telah tidak kelihatan lagi. Katanya, entah siapa yang bilang, Niar dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kasihan, kan?"
"Seharusnya memang begitu."
"Kenapa tidak dulu-dulu?"
"Pasti Pak Sindhu sudah banyak berupaya."
"Ya, mungkin begitu. Ah, orang itu memang amat tertutup sejak istrinya meninggal. Ketika menikah, orang-orang di sini pun tak ada yang diundangnya ke pesta pernikahannya."
"Mereka menikah di sini?"
"Tidak. Kabarnya mereka menikah di kota istri barunya. Dan sejak saat itu, rumah yang kalian tempati itu dikosongkan. Hanya sesekali saja Pak Sindhu datang menengok."
"Pantas rumah itu kurang terawat," gumam Miko.
"Hampir setahun ditinggalkan."
"Apakah ada sesuatu yang tak wajar di rumah itu sehingga Pak Sindhu meninggalkan rumahnya, bahkan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat murah. Rumah tersebut sebenarnya sangat artistik, bukan?"
Pak Wisnu memainkan jari-jarinya. "Seingat saya tak ada yang aneh di rumah itu. Tak pernah."
"Mungkin ada hantunya...."
Pak Wisnu menggeleng.
"Jangan karena ada saya, Pak...."
"Oh, tidak! Rumah itu biasa-biasa saja. Sekali pun tak pernah ada kejadian aneh, apalagi menyeramkan. Kesannya saja yang angker, karena tidak terawat dan catnya yang kusam termakan cuaca."
"Lalu, kejadian apa yang telah menimpa adik saya? Kenapa bisa seperti itu? Kerasukan, seperti orang gila dan...."
"Saya bukan orang pintar, bukan dukun atau paranormal. Untuk urusan kerasukan setan, mungkin bisa diatasi oleh mereka, yang ahli ilmu gaib."
"Mudah-mudahan dokter bisa mengatasi. Mungkin Karmila memang sakit dah harus diobati...," gumam Miko.
"Saya harap begitu," ucap Pak Wisnu. Ucapan bernada bimbang.
***
CHAPTER 8:
ARWAH YANG SUKA MENYANYI LAGU ANAK-ANAK

Ibu Wibi kembali terguncang. Tengah malam, ketika semua baru saja terlelah, Karmila kembali bertingkah aneh. Kembali menari dan bernyanyi seperti orang gila. Pak Wibisono dan Miko berusaha memegangi tubuh Karmila, malahan terlempar ketika gadis itu meronta-ronta. Di tengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba Miko ingat kisah yang dituturkan Pak Wisnu.
Miko telah berdiri persis di depan Mila yang masih berputar-putar dan menyanyikan lagu anak-anak dengan suara yang aneh.
"Niar!" suara Miko keras menghardik.
Pak Wibisono kaget, sekaligus khawatir melihat tindakan Miko yang menurutnya sangat aneh. Tapi di luar dugaan, hardikan itu seketika menghentikan gerakan dan suara Karmila.
"Kamu Niar bukan? Kamu arwah Niar?!"
"Miko! Jangan macam-macam! Adikmu lagi sakit. Ia mengigau karena demamnya datang lagi!" Pak Wibisono mendorong tubuh Miko.
"Niar!" Miko tak mempedulikan ayahnya lagi. Ia sekali lagi menghardik. "Jika kamu berniat baik dan tak ingin mengganggu, pasti kamu mau menjawab. Kamu Niar, bukan?"
Tiba-tiba Karmila menjatuhkan diri ke lantai, lalu menangis. Ia menangis sembari menggelosoh di lantai, seperti kelakuan seorang anak kecil. Miko mendengar tangis seorang bocah!
Pak Wibisono dan istrinya tak bisa berbuat banyak, kecuali memandang anak laki-lakinya itu, yang kini berjongkok sambil membelai kepala Karmila.
"Niar... Niar...," katanya lembut. "Kami semua orang baik-baik dan tidak ingin mengganggu kamu. Tolong katakan... apa yang kamu mau? Tolong, kasihanilah adikku. Niar... Niar...."
Pak Wibisono dan istrinya menjadi takjub luar biasa manakala tiba-tiba Karmila menghentikan tangisnya.
Karmila berdiri setelah meraih lengan Miko, serta menarik kakaknya hingga berdiri juga. Sebelum Miko paham, ia terpaksa menurut ketika Karmila menariknya menuruni tangga. Karmila berhenti di anak tangga terakhir. Miko masih terus dipegang pergelangan tangannya oleh Karmila, seakan-akan orang buta yang ditunjukkan jalannya. Di samping tangga menuju lantai atas itu, mendadak Karmila kembali menangis. Berkali-kali ia menunjuk ke arah dinding di bawah tangga itu.
"Bongkar! Bongkar! Bongkar!" teriak Karmila berkali-kali bagai histeris. Ia terus menunjuk dinding di bawah tangga itu.
Miko kebingungan lagi. Ia memandang kedua orangtuanya yang juga sama-sama bingung.
Tangis Karmila semakin keras. Ia kembali meronta-ronta dan menggelosoh di lantai, mirip kelakuan bocah kecil yang dikecewakan.
Setelah itu Karmila terkulai, tertidur di lantai yang dingin dengan keringat bersimbah di sekujur tubuhnya. Ketika Miko dengan susah-payah membopong Karmila ke kamar ibunya, Pak Wibisono menguntit dari belakang dengan sikap tak berdaya.
"Niar? Siapa Niar?"
"Anak Pak Sindhu. Bapak lupa cerita Pak Wisnu tadi pagi?"
Setelah Karmila ditidurkan, Pak Wibisono dan istrinya duduk rapi di depan anak laki-lakinya. Miko menceritakan pertemuan dengan Pak Wisnu. Ia menceritakan kembali apa yang telah didengarnya dari Pak Wisnu.
"Aneh juga. Sekian pertemuan dengan Pak Sindhu, ia tak pernah bercerita perihal keluarganya, apalagi tentang anaknya yang mengalami gangguan mental. Bapak bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Pak Sindhu telah beristri lagi."
"Mungkin masih ada rahasia-rahasia yang sengaja disembunyikan olehnya. Rahasia-rahasia rumah ini," kata Ibu Wibi. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya. "Lalu, apa hubungannya dengan Niar? Apa betul orang yang belum mati bisa merasuki Mila? Aneh!"
"Bongkar...?!"
Miko tengah berpikir keras.
***
CHAPTER 9:
MISTERI SATIR DI RUMAH KUNO

Hari ini Pak Wibisono berjanji hendak menemui seorang paranormal kenalannya sepulang dari kantor, untuk membicarakan keanehan yang terjadi pada Karmila. Ibu Wibi dan Miko amat mendukung keputusan Pak Wibisono itu, namun Miko juga punya rencana lain.
Pulang sekolah, Miko tidak langsung pulang ke rumah, melainkan berbelok ke rumah Pak Wisnu. Untunglah Pak Wisnu juga sedang ada di rumah.
Ketika telah berhadapan dengan orang tua itu, Miko langsung menceritakan kejadian semalam.
"Dinding di bawah tangga?" Pak Wisnu memotong cerita Miko.
"Niar... maksud saya Karmila, menunjuk-nunjuk dinding di bawah tangga itu. Bongkar! Bongkar! Begitu katanya, Pak."
Pak Wisnu nampak berpikir. Ia tengah menggali ingatannya.
"Saya sering masuk ke rumah itu dan tahu persis situasi dari ruang-ruang di dalam. Tapi seingat saya, di bawah tangga ke atas itu sengaja dibiarkan terbuka. Tentu saja terbuka, karena jadi ruang kecil yang dimanfaatkan sebagai gudang. Betul! Saya selalu mengambil sabit dan gunting rumput dari bawah tangga," ungkapnya.
"Nanti dulu! Bapak pasti salah ingat. Tak ada ruang di bawah tangga. Yang ada cuma dinding!"
"Bongkar...?" Pak Wisnu bergumam. Lalu tiba-tiba: "Ayo kita ke rumahmu!"
Miko terbawa oleh semangat Pak Wisnu. Hanya dalam dua kali pertemuan, ia telah merasa akrab dengan Pak Wisnu. Tidak lama berselang sesampainya di rumah, Ibu Wibi tidak bisa berbuat banyak kecuali membiarkan Pak Wisnu masuk ke rumah. Ia percaya sepenuhnya pada Miko. Dan semua demi kebaikan Karmila!
"Dinding ini!" Miko menunjuk dinding di sisi tangga, atau lebih tepat disebut di bawah tangga. Semestinya ada ruang berbentuk segitiga di bawah tangga itu, namun yang ada adalah dinding. Dinding yang menutup ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga.
"Dulu dinding ini tidak ada!" kata Pak Wisnu spontan. Spontan pula ia memukul-mukul permukaan dinding itu. "Nah, benar bukan? Dengarkan suaranya! Di balik dinding ini ada ruang kosong. Di sinilah dulu saya mengambil dan menaruh kembali peralatan kebun."
Miko ikut memukul-mukul dan akhirnya membenarkan ucapan Pak Wisnu.
"Ini dinding baru. Lihat perbedaan warnat catnya. Beda, kan? Dinding ini lebih baru dan... sayangnya agak asal-asalan membuatnya. Siapa tukang borong yang membuatnya?" Pak Wisnu berkata pada dirinya sendiri.
Selagi keduanya, ditambah kemudian dengan Ibu Wibi, masih memeriksa dinding itu, terdengar suara langkah tergesa menuruni anak tangga.
"Bongkar!"
Mereka bertiga menoleh dan tercekat.
"Mila?!" Ibu Wibi dan Miko menjerit serentak.
"Niar?" Pak Wisnu berkomat-kamit.
Mulut Karmila yang mengeluarkan keluhan amarah, berangsur-angsur berubah menjadi tangisan pilu. Tangis seorang bocah!
Mulut Pak Wisnu masih komat-kamit. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya, meniupkan tiga kali, lalu melangkah mendekati Karmila. Tangan Pak Wisnu terulur maju dan tahu-tahu telapak tangannya mengusap wajah Karmila.
Miko dan Ibu Wibi kian terpukau ketika melihat Karmila seperti terhentak. Seketika pula ekspresi wajah dan cahaya matanya berubah.
"Ibu...?" Karmila menatap ibunya dan kakaknya bergantian. Matanya seperti seorang yang baru bangun dari tidur. "Pada mau ngapain?"
"Anu... Non, Ibu menyuruh saya membongkar dinding ini." Pak Wisnu justru yang menjawab sambil menunjuk dinding di bawah tangga.
"Lho, kenapa?" Karmila terheran-heran.
"Karena bisa untuk gudang, Mila," kata Miko.
Ibu mengangguk. Artinya, di antara mereka bertiga, tanpa harus bicara, telah ada kesepakatan bahwa dinding itu harus dibongkar.
***
CHAPTER 10:
MISTERI PEMBUNUH NIAR

Ibu Wibi mengajak Karmila kembali ke kamar.
"Ternyata Pak Wisnu punya ilmu."
"Ilmu apa? Cuma kemampuan kecil. Ananda pun bisa belajar. Cuma doa."
Miko tersenyum puas. "Kemarin-kemarin kami selalu kerepotan mengatasi Karmila, tapi ternyata Pak Wisnu cuma dengan sekali sentuhan, Karmila seketika sadar. Hebat!"
Miko teringat ayahna. Pasti akan ada perdebatan terlebih dahulu. Tapi mengingat kemampuan Pak Wisnu dalam menyadarkan Karmila tadi, timbullah kepercayaan Miko padanya. Nampaknya Pak Wisnu langsung melihat, atau setidaknya memiliki firasat tertentu. Dan Miko percaya, di balik sikapnya yang selalu merendah, sesungguhnya Pak Wisnu punya kemampuan ekstra melebihi orang kebanyakan.
Mungkin semacam kekuatan supranatural.
"Bagaimana? Ananda setuju saya bongkar dinding ini?"
Bagaimana jika Bapak marah? Tapi Ibu pun sudah setuju! batin Miko.
"Saya carikan alatnya, Pak. Sekarang juga!" kata Miko akhirnya dengan suara mantap. Ya, semua ini demi kebaikan Karmila!
Sesaat kemudian Pak Wisnu dan Miko cukup menimbulkan kegaduhan. Dengan hanya menggunakan sebuah palu yang cukup besar, mereka bergantian membobol tembok di bawah tangga itu. Miko merasa, Pak Wisnu amat bersemangat. Ia bekerja tanpa banyak bicara. Tapi ketika ia telah berhasil membuat lubang sebesar kepala kerbau, sejenak Pak Wisnu berhenti. Miko pun secara refleks mendekap hidungnya.
Ada bau tak sedap keluar dari lubang yang telah berhasil dibuat itu.
"Mundur!" perintah Pak Wisnu pada Miko.
Lalu, ia mengatur sikap membuat ancang-ancang dan mengayunkan martil sekuat tenaga.
Sebuah lubang yang cukup besar telah tercipta, dan itu cukup membuat keduanya dengan mudah melihat sesuatu yang berada di balik dinding itu.
Sesuatu yang membuat Miko hampir pingsan!
***
CHAPTER 11:
SELAMAT JALAN NIAR

Miko melipat korannya dengan wajah puas. Ada perasaan bangga karena di dalam berita itu namanya disebut-sebut sebagai orang yang punya peranan penting atas terbongkarnya kasus pembunuhan yang cukup unik itu.
Akhirnya, tanpa kesulitan yang berarti, pihak yang berwajib berhasil menemukan dan memenjarakan Pak Sindhu. Akhirnya terungkap juga semua alasan yang membuat Pak Sindhu tega menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri. Alasan yang kedengarannya tak masuk akal. Pak Sindhu malu jika calon istri barunya mengetahui bahwa ia punya seorang anak, apalagi seorang anak perempuan yang gila.
Jangan-jangan Sindhu itu juga bukan orang waras, batin Miko.
"Kopinya, Miko."
Miko menoleh. Ibu Wibi mengangsurkan segelas kopi kepadanya.
"Enak saja! Ini buat Pak Wisnu. Suruh ia istirahat sebentar. Kasihan, dari pagi belum berhenti. Dia memang rajin...."
Miko segera membawa segelas kopi itu ke dalam. Di bawah tangga dilihatnya Pak Wisnu masih sibuk dengan adonan semennya.
"Ngopi dulu, Pak."
Pak Wisnu tersenyum. "Sedikit lagi beres, kan? Besok tinggal mengecat dan... kembali seperti semula. Seperti setahun yang lalu."
"Bagus. Bagaimanapun, seharusnya itu memang dibiarkan terbuka, dan dimanfaatkan untuk gudang."
Miko memandang ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga itu. Ia teringat kembali seperti apa perasaannya waktu itu. Ia masih bisa membayangkan bagaimana dan seperti apa mayat yang belum seluruhnya hancur itu. Bahkan pakaiannya masih utuh dan tali yang melingkar di leher itu pun masih utuh. Kurun waktu setahun dalam ruang tertutup amat rapat membuat mayat itu tidak cepat rusak.
Mayat Niar.
Miko masih sering berpikir, apakah arwah penasaran Niar juga akan merasuki orang, jika orang itu bukan Karmila? Bagaimana jika yang datang sebagai penghuni bukan anak perempuan yang kebetulan sama persis tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya dengan Niar?
Barangkali kasus terbunuhnya Niar tak pernah terungkap. Karmila sendiri sudah tidak terlalu merisaukan keanehan-keanehan yang pernah menimpa dirinya.
Ia menganggap dirinya hanyalah media yang dipakai arwah Niar untuk membuka dan menyingkap kejahatan dan kekejian ayahnya sendiri.
Luar biasa.
Buktinya, sejak jasad Niar dikebumikan dengan layak, dan kejahatan Pak Sindhu terungkap, Karmila tak pernah lagi mengalami hal-hal aneh maupun kesurupan.
"Tidak usah terlalu bagus, Pak Wisnu...."
Miko dan Pak Wisnu menoleh. Yang datang adalah Pak Wibisono.
"Bapak ini!" kata Miko. "Tentunya Bapak setuju jika kita mempertahankan keaslian rumah antik ini, kan? Kita tidak tahu, tapi Pak Wisnu lebih tahu seperti apa bentuk kolong tangga ini dulunya...."
"Iya, tapi apa artinya jika sebentar lagi Bapak akan menjualnya?"
"Menjual rumah ini?" Miko terpukau.
Pak Wibisono tertawa gembira. "Kenapa tidak? Karena foto rumah kita beberapa kali muncul di koran, ternyata berakibat bagus. Ada sekian penggemar bangunan kuno yang tertarik untuk membeli dengan harga istimewa."
"Apa tidak sayang, Pak?"
"Kalau mereka berani membayar tiga kali lipat dari nilai beli kita?"
"Terserah Bapak. Mungkin dengan begitu kita bisa membuat rumah yang betul-betul baru. Tanpa masalah, tanpa misteri...."
Pak Wibisono tersenyum. ©
TAMAT